Powered By Blogger

Kamis, 22 Desember 2011

Matery Vocab 3D1



The objective/goal of VOCABULARY learning:
1.      To enlarge/improve students’ vocabulary mastery.
2.      To enable students to use the vocabularies they already mastered in the form of sentences/expressions. (ultimate goal)
There are 2 kinds of vocabulary:
1.      Receptive vocabulary---à used in listening and reading.
2.      Expressive/productive vocabulary---àused in speaking and writing

Syllabus of VOCABULARY learning :
1.      Review of the English parts of speech.
-          Types of words :
-          NOUN – real and abstract
Student, flag, boat, fruit, hall, pen
Love, feeling, responsibility, courage/bravery, jealousy, weakness
Ex: responsible
The headmaster is responsible for this problem.
My girl friend left me intentionally (on purpose).

-          ADJ.  : wide, strong, marvelous, amaze, salty, watery
-          VERB :
Trans : buy, send, read, bring, drink, eat
Intrans : run, walk, swim, sleep, go, appear, jump,
-          PRON :
I à meà my à mineàmyself
You -à youà your -àyoursàyourself/yourselves.
It à it-àits---itself
-          ADV. : calmly, beautifully, carefully, quickly, late, hard,
-          PREP. : in, on, at, into, out of, above, below, beside
-          CONJ. : and, or, but, either, both..of.
2.      Derivation-----à English morphemes

To produce (v)----- -production (n) --- productive (adj)---- productivity (n)-----productively (adv)------ producer (n)----product (n)

3.      Morpheme : 1. Free morpheme : child, easy, quick, wide, beer
Bound morpheme : -ity, -tion, -sion, -ive, -al, etc.

Prefix, infix, suffix,
ENGLISH SUFFIXES
-          tion, -sion, -ure, -ment, -ce/-ance, -ess,-th, -al (used to form NOUNS)
-          to generate (v)------generation (n)
-          to educate (v)------education (n)
-          to omit (v)------omission (n)
-          decide (v)----- decision (n)
-          to depart (v)---- departure (n)
-          to press(v)----pressure (n)
-          to govern (v)----- government (n)
-          to punish( v)-----punishment (n)
-          to serve (v)---- service (n)
-           
-          to perform (v) -----performance (n)
-          to admit (v)-----admittance (n)
-          to proceed (v) ----- process (n)
-          to exceed (v) ----- excess (n)
-          to die (v) ---- death (n)
-          to grow (v)----growth (n)
-          to arrive (v) ----- arrival (n)
-          to survive (v)----survival (n)

Weep/moan, conceal, commence, capture
Cry, hide, begin/start, catch
To receive (v) 

Ni dia???????????????


Lirik Lagu Nicky Tirta & Vanessa Angel - Indah Cintaku


Ku ingin kau tahu, ku ingin kau selalu
Dekat denganmu setiap hariku
Sudahkah kau yakin untuk mencintaiku
Ku ingin hanya satu tuk selamanya

Ku tak melihat dari sisi sempurnamu
Tak peduli kelemahanmu
Yang ada aku jatuh cinta karena hatimu

Cintaku tak pernah memandang siapa kamu
Tak pernah menginginkan kamu lebih
Dari apa adanya dirimu selalu

Cintaku terasa sempurna karena hatimu
Selalu menerima kekuranganku
Sungguh indah cintaku

Sudahkah kau yakin untuk mencintaiku
Ku ingin hanya satu tuk selamanya

Ku tak (ku tak) melihat dari sisi sempurnamu
Tak peduli kelemahanmu
Yang ada aku jatuh cinta karena hatimu

Cintaku tak pernah memandang siapa kamu
Tak pernah menginginkan kamu lebih
Dari apa adanya dirimu selalu

Cintaku terasa sempurna karena hatimu
Selalu menerima kekuranganku
Sungguh indah cintaku, cintaku

Cintaku tak pernah memandang siapa kamu
Tak pernah menginginkan kamu lebih
Dari apa adanya dirimu selalu

Cintaku terasa sempurna karena hatimu
Selalu menerima kekuranganku
Sungguh indah cintaku
Sungguh indah cintaku, indah cintaku

Kamis, 15 Desember 2011

Etika Keguruan


PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pada hakikatnya guru merupakan pendidik yang nantinya akan ditiru oleh anak didiknya dengan kata lain guru digugu dan ditiru. Apapun yang dilakukan atau yang diperlihatkan oleh guru kepada siswanya baik dari segi ucapan, perbuatan maupun penampilan merupakan hal penting yang nantinya akan dapat dinilai bahkan ditiru oleh anak didiknya. Oleh karena itu guru dituntut untuk memiliki etika ketika berhadapan dengan anak didik.
Dalam proses pendidikan baik formal maupun non formal, kehadiran guru merupakan hal yang sangat utama. Proses pengajaran tidak akan tercapai tanpa adanya sosok guru. Tidak mustahil ketika seorang guru mendidik anak didiknya dengan sikap dan etika yang kurang baik akan berdampak buruk atau bahkan tidak tercapainya tujuan pendidikan pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu suksenya suatu pendidikan tergantung kepada guru.
B.     Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat diambil rumusan masalahnya sebagai berikut:
1.      Bagaimana tugas dan tanggung jawab guru terhadap anak didik?
2.      Apa peranan guru dalam dunia pendidikan?







PEMBAHASAN
ETIKA KEGURUAN
A.    Pengertian Etika Keguruan
Etika merupakan ilmu yang menyelidiki tingkah laku moral.[1] Sedangkan menurut Funk dan Wagnalls New Encyclopedia “ethics (from ethos, “character”, “custom”), is principles or standards of human conduct, called sometimes moral philosophiy” (etika berasal dari ethos, karakter atau adat kebiasaan), adalah perinsip-perinsip atau pedoman tingkahlaku manusia kadang-kadang disebut moral, secara lebih luas adalah segala sesuatu yang mempelajari perinsip-perinsip atau yang disebut dengan filsafat moral.[2] Kemudian menurut Dr. H. Hamzah Yakub dalam bukunya Etika Islam, mengatakan bahwa etika adalah ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dan memperlihatkan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran. Kemudian pendapat lain tentang etika yang dikemukakan Qodri A. Aziziy bahwa etika sangatlah berkaitan dengan perilaku manusia, beberapa kata kunci etika seperti baik/ bagus, benar, salah, wajib dan semacamnya ketika dipakai selain perilaku manusia tidaklah bernilai etis.[3]
Guru adalah Pendidik yang merupakan orang dewasa yang bertanggungjawab memberikan bimbingan atau bantuan kepada siswa dalam perkembangan jasmani dan rohani agar mencapai kedewasaan, mampu melaksanakan tugas sebagai makhluk Tuhan, Khalifah di bumi dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.
Sedangkan pengertian guru bila dilihat dari sudut pandang sosial, budaya dan agama adalah:
Ø  Pengertian guru dari sudut pandang sosial adalah orang yang dapat berinteraksi dengan peserta didik dalam hubungan timbal balik antara pendidik dan peserta didik, dapat mengetahui karaketeristik peserta didik dan tidak membedakan antara golongan menengah dan atas, dapat memanfatkan harapan-harapan orang tua dan menerapkannya dalam kelas dalam bentuk norma-norma, bersikap demokratis
Ø  Pengertian guru dilihat dari sudut pandang budaya adalah orang yang membimbing kepada peserta didik, mampu menilai kemampuan peserta didik dengan baik, dapat mendidik peserta didiknya dengan menyampaikan sejumlah pengetahuan yang sesuai dengan kurikulum metode dan teknik kontrol tertentu yang berlaku di sekolah, dapat mentransfer ilmu pengetahuannya dengan baik
Ø  Pengertian guru dilihat dari sudut pandang agama adalah orang yang berilmu dan mengamalkannya, yang memiliki kepribadian muslim yang kaffah, yang melaksanakan tindakan mendidik secara Islami, yang mempunyai kedudukan utama dan sangat penting[4]
Jadi dari pengertian etika keguruan diatas dapat kami simpulkan bahwasannya etika keguruan adalah tingkah laku yang baik dan mana yang kurang baik yang diperlihatkan secara keseluruhan daripada kaidah-kaidah moral yang nampak dalam perbuatan manusia yang diperlihatkan kepada guru kepada anak didiknya agar anak didik tersebut terangsang untuk mengikutinya.
B.     Profesi Keguruan
Secara sederhana pekerjaan apapun akan dinilai profesional apabila out put yang dikeluarkan atau dihasilkan dapat memenuhi keinginan semua pihak. Semua profesi bisa dikatakan profesional apabila pekerjaan tersebut dilakukan oleh mereka secara khusus bukan karena tidak bisa melakukan pekerjaan lannya. Begitu pula profesi guru, guru adalah orang yang sangat penting karena ia akan menyampaikan ilmu pengetahuan yang tidak akan pernah rusak sampai kapanpun. Dan untuk menjadi guru tidaklah mudah, seorang guru harus memiliki bakat, keahlian khusus, kepribadian yang baik, mental dan fisik yang kuat, memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas, dan yang paling penting guru haruslah seorang warga negara yang baik.
Sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang SISDIKNAS (UU RI No. 20 Th. 2003) tentang pendidik dan tenaga kependidikan pada pasal 42 ayat (1) dikatakan bahw pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.[5]
Selain itu untuk menjadikan profesi guru lebih baik, seorang guru haruslah memiliki perinsip-perinsip dalam mengajar. Menurut Slameto ada sepuluh perinsip mengajar yang harus dikuasai oleh guru diantaranya sbb: (1) Prinsip perhatian (2) Prinsip aktivitas (3) Perinsip apersepsi, (4) Perinsip peragaan, (5) Perinsip repetisi, (6) Prinsip korelasi, (7) Prinsip konsentrasi, (8) Prinsip sosialisasi, (9) Prinsip individualisasi, (10) Dan Prinsip evaluasi.[6]
Oleh karena itu apabila sebuah profesi guru atau pekerjaan yang dilakukan oleh guru yang memiliki hal-hal yang tertulis diatas untuk mendidik anak didik maka itu merupakn sebuah pekerjaan yang sangat mulia.
C.    Tugas dan Tanggung Jawab Guru.
Dalam melaksanakan tugasnya, seorang guru mempunyai tanggung jawab utama, yaitu mengajar dan mendidik siswanya agar tercapai daripada tujuan pendidikan itu sendiri. Berhasil tidaknya pendidikan pada siswa tergantung kepada pertanggung jawaban guru dalam melaksanankan tugasnya.
Tugas guru bukan saja menyangkut kegiatan didalam kelas atau sekolah, tetapi guru juga harus melakukan hal-hal atau melaksanakan seperangkat tingkah laku sehubungan dengan kedudukannya sebagai guru. Menurut Piet A. Sahertian dkk, tugas guru dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1.      Tugas Profesional
Tugas profesional menjadikan guru memiliki peranan profesi. Diantara yang termasuk peranan profesional adalah:
Ø  Guru menguasai pengetahuan
Ø  Guru mengetahui psikologi anak
Ø  Guru sebagai penanggung jawab disiplin anak, penilaian terhadap kegiatan siswa dan
Ø  Guru sebagai penghubung sekolah dengan masyarakat.
2.      Tugs Personal
Tugas guru sebagai pemberi contoh dan mampu menampakkan sosok seorang guru yang baik yang memiliki konsep dan pribadi yang baik.
3.      Tugas sosial
Seorang guru harus punya komitmen terhadap masyarakat dalam peranannya sebgai agen pembaharuan.
Tugas dan peranan guru tidaklah terbatas di dalam masyarakat, bahkan pada hakikatnya tugas guru merupakan komponen strategis yang memiliki peran yang penting dalam menentukan gerak maju kehidupan bangsa. Keberadaan guru merupakan faktor yang penting dalam suatu bangsa yang tidak mungkin digantikan oleh yang lain.masyarakat pun mendudukkan guru pada tempat yang terhormat dan dalam masyarakat lebih dikenal dengan “ing ngarso sing tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handrayani”
Disamping itu ilmuwan muslim juga mengemukakan beberapa tugas guru. Menurut Abdurrahman Al-Nahlawi, guru hendaknya mencontoh peranan yang dilakukan oleh Nabi. Tugas mereka yang pertama ialah mengkaji dan mengajarkan ilmu illahi sesuai dengan ayat al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 79.
$tB tb%x. @t±u;Ï9 br& çmuŠÏ?÷sムª!$# |=»tGÅ3ø9$# zNõ3ßsø9$#ur no§qç7Y9$#ur §NèO tAqà)tƒ Ĩ$¨Z=Ï9 (#qçRqä. #YŠ$t6Ïã Ík< `ÏB Èbrߊ «!$# `Å3»s9ur (#qçRqä. z`¿ÍhŠÏY»­/u $yJÎ/ óOçFZä. tbqßJÏk=yèè? |=»tGÅ3ø9$# $yJÎ/ur óOçFZä. tbqßâôs? ÇÐÒÈ
Artinya:
“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (Dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (Q.S. Ali Imran: 79).

Secara umum menurut Abdurrahman al-Nahlawi tugas guru adalah:
a.       Tugas pensucian, yaitu mengembangkan dan membersihkan jiwa peserta didik agar dapat mendekatkan diri kepada Allah, menjauhkan diri dari keburukan dan menjaga agar tetap dalam fitrahnya.
b.      Tugas pengajaran, yaitu menyampaikan berbagai pengetahuan dan pengalaman terhadap peserta didik untuk diterjemahkan dalam tingkah laku dan diterapkan dalam kehidupannya.
Menurut Piet A. Sahertian, tanggung jawab guru tidak hanya menekankan pada aspek kognitif tetapi juga pada aspek keperibadian anak misalnya mendidik anak disiplin, tanggung jawab dan mandiri.[7]
Dari beberapa pendapat diatas maka dapat kami simpulkan bahwasannya tugas dan tanggung jawab guru adalah mendidik dan membina peserta didik kejalan yang benar. Mendidik lebih berat daripada mengajarkan. Karena mendidik cakupannya lebih luas yaitu usaha yang dilakukan oleh guru untuk membimbing sekaligus membina anak didik agar menjadi manusia susila yang cakap, aktif, kreatif dan mandiri. Sedangkan mengajar hanya sebatas menuangkan sejumlah bahan pelajaran kepada anak didik di dalam kelas atau ruangan tertentu. Selain mengajarkan pendidikan kepada siswa, guru juga memiliki tugas dan tanggung jawab diluar kelas, yaitu kepada masyarakat. Didalam masyarakat guru dituntut untuk menjadi contoh sekaligus teladan yangg baik. Agar profesi guru itu sendiri tidak dipandang sebelah mata sekaligus mengurangi rasa hormat masyarakat kepada guru.
Didalam masyarakat guru sangatlah dihormati, tetapi banyak fakta yang terjadi didalam masyarakat kalau guru itu hanyalah seseorang yang mengajar di sekolah dan sama kedudukannya dengan masyarakat yang lainnya. Hal itu terjadi karena guru tidak memiliki kemampuan yang lebih dari masyarakat yangg lain. Pada hakikatnya seorang guru haruslah  memiliki etika sekaligus memberikan contoh-contoh yang baik kepada masyarakat. Sehingga masyarakat akan benar-benar meletakkan guru pada tempat yang terhormat, yang dikenal dalam masyarakat yakni “ing ngarso sing tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handrayani” (didepan memberi suri tauladan, ditengah-tengah membangun, dan dibelakang memberi dorongan dan motivasi).
D.    Peran Guru
Seiring dengan perkembangan zaman, guru dituntut untuk meningkatkan peranan serta kompetensinya dalam mendidik anak didik. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang nyaman, aman, tentram, dan sekaligus mengelola kelas dengan baik sehingga proses belajar mengajar akan optimal.
Menurut Ahmad rohani yang dikutip oleh Drs. Akmal Hawi, M.Ag mengatakan bahwa peran guru adalah ganda yakni sebagai pengajar dan pendidik. Sedangkan menurut Sudirman AM, peranan guru adalah:
1.      Informator, pelaksana cara mengajar informatif
2.      Organisator, pengelola kegiatan akademik
3.      Motifator, meningkatkan kegiatan dan pengembangan kegiatan belajar siswa.
4.      Pengasuh/ direktor, yaitu membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan
5.      Inisiator, yaitu pencetus ide dalam proses belajar mengajar.
6.      Transmitter, yaitu penyebar kebijaksanaan pendidikan dan pengetahuan.
7.      Fasilitator, yaitu memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar mengajar.
8.      Mediator, penengah dalam kegiatan belajar mengajar.
9.      Evaluator, yaitu menilai prestasi anak didik dalam bidang akademis maupun tingkah laku.[8]
Kemudian WF Connell membedakan tujuh (7) peranan seorang guru yaitu:
1.      Guru sebagai pendidik
Peran guru sebagai pendidik (nurturer) merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (support), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkat laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada.
2.      Guru sebagai model
Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Oleh karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dan negara. Karena nilai nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah Pancasila, maka tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai Pancasila
3.      Guru sebagai pengajar dan pembimbing.
Setiap guru harus memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain di luar fungsi sekolah seperti persiapan perkawinan dan kehidupan keluarga, hasil belajar yang berupa tingkah laku pribadi dan spiritual dan memilih pekerjaan di masyarakat, hasil belajar yang berkaitan dengan tanggurfg jawab sosial tingkah laku sosial anak. Kurikulum harus berisi hal-hal tersebut di atas sehingga anak memiliki pribadi yang sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dianut oleh bangsa dan negaranya, mempunyai pengetahuan dan keterampilan dasar untuk hidup dalam masyarakat dan pengetahuan untuk mengembangkan kemampuannya lebih lanjut.
4.      Guru sebagai pelajar (learner)
Seorang guru dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar supaya pengetahuan dan keterampilan yang dirnilikinya tidak ketinggalan jaman. Pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang berkaitan dengan pengembangan tugas profesional, tetapi juga tugas kemasyarakatan maupun tugas kemanusiaan.
5.      Guru sebagai komunikator terhadap masyarakat setempat.
Seorang guru diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan di segala bidang yang sedang dilakukan. Ia dapat mengembangkan kemampuannya pada bidang-bidang dikuasainya.
6.      Guru sebagai pekerja administrasi
Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu seorang guru dituntut bekerja secara administrasi teratur. Segala pelaksanaan dalam kaitannya proses belajar mengajar perlu diadministrasikan secara baik. Sebab administrasi yang dikerjakan seperti membuat rencana mengajar, mencatat hasil belajar dan sebagainya merupakan dokumen yang berharga bahwa ia telah melaksanakan tugasnya dengan baik.
7.      Dan peranan guru dalam kesetiaan terhadap lembaga.
Didalam lembaga pendidikan guru dituntut untuk setia. Oleh karena itu guru diwajibkan untuk mengikuti peraturan-peraturan yang ada yang dibuat oleh lembaga.[9]
Dari penjelasan tentang peranan guru diatas dapat diambil kesimpulan bahwasannya peran guru yang paling penting adalah menumbuhkan sekaligus menanamkan 3 aspek kepada diri anak didik. Diantaranya yaitu aspek kognitif, aspek psikomotorik dan aspek afektif. Yang mana ketiga aspek tersebut sangatlah penting peranannya dalam pendidikan. Apalagi guru Pendidikan Agama Islam dituntut bagaimana dia dapat menanamkan ketiga aspek tersebut sekaligus membentuk ahlak yang mulia dalam diri setiap anak didik, sehingga nantinya akan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berhasil tidaknya seorang guru dalam mengajar sekaligus mendidik anak didik dapat dilihat dari output yang dikeluarkan oleh guru itu sendiri, yaitu anak didik.










KESIMPULAN
Untuk menjadi guru yang baik haruslah memiliki kemampuan sekaligus etika agar dalam proses belajar mengajar terlaksana sesuai dengan tujuan daripada pendidikan itu sendiri. Selain itu tugas guru adalah menjadi penyalur pengetahuan atau isi pelajaran kepada peserta didik. Guru juga mempunyai kewajiban yang harus dilakukan yaitu mendidik peserta didik kejalan yang benar agar tidak terjadi penyimpangan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu kita sering mendengar istilah “guru digugu dan ditiru”. Apabila guru menyampaikan pelajaran dan pengajaran dengan baik, otomatis hasilnya pun akan baik juga.
Pada era globalisasi atau moderen ini peranan guru masihlah sangat penting, walaupun terjadi perkembangan teknologi yang sangat pesat seperti adanya TV, internet, dan sumber-sumber berita lainnya. Namun seiring dengan berkembangnya teknologi informasi guru merupakan komponen dalam dunia pendidikan yang memiliki hubungan/keterkaitan dengan komponen lainnya. Dengan majunya teknologi informasi maka akan berdampak positif, jika teknologi informasi dimanfaatkan oleh guru tersebut. Namun pada hakikatnya peranan guru masih sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan.
Kemudian kita sebagai guru Pendidikan Agama Islam diharapkan dapat berperan sebagai pendidik, pengajar, motifator, sekaligus penunjuk jalan yang lurus untuk anak didik.








DAFTAR PUSTAKA
A.Aziziy, Qodri, Pendidikan Agama Untuk Membangun Etika Sosial, Semarang, Aneka Ilmu, 2003.
Bertens, K, Etika, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 2009.
Djamarah, Saiful Bahri, Psikologi Belajar, jakarta, Rineka Cipta, 2008.
E, Tamburaka, Rustam, Pendidikan Pancasila (Tinjauan Filsafat Pancasila Serta Etika Profesi Berdasarkan Pancasila), Jakarta, PT Dunia Pustaka Jaya, 1995.
Hawi, Akmal, Kompetensi Guru PAI, Palembang, Rafah Press, 2009.
Redaksi Sinar Grafinda, UU Sistem Pendidikan Nasional (UU RI No 20 Th 2003), Jakarta, Sinar Grafika, 2008.

http://pakguruonline.pendidikan.net/buku_tua_pakguru_dasar_kpdd_154.html
http://www.google.com/search?q=ETIKA+KEGURUAN&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls = org.mozilla: en-US:official&client=firefox-a




[1] K. Bertens, Etika, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 2009, hlm 15.
[2] Rustam E Tamburaka, Pendidikan Pancasila (tinjauan filsafat pancasila serta etika profesi berdasarkan pancasila), Jakarta, PT Dunia Pustaka Jaya, 1995, hlm 174.
[3] Qodri A. Aziziy, Pendidikan Agama Untuk Membangun Etika Sosial, Semarang, Aneka Ilmu, 2003, hlm 112.
[4]http://www.google.com/search?q=ETIKA+KEGURUAN&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls = org.mozilla: en-US:official&client=firefox-a
[5] Redaksi Sinar Grafinda, UU Sistem Pendidikan Nasional (UU RI No 20 Th 2003), Jakarta, Sinar Grafik, 2008, hlm 28.
[6] Syaiful Bahri Djamara, Psikologi belajar, Jakarta, Rineka Cipta, 2008, hlm 109.
[7] Akmal Hawi, Kompetensi Guru PAI, Palembang, Rafah Press, 2009, hlm 56.
[8] Akmal Hawi, ibid, hlm 57
[9] http://pakguruonline.pendidikan.net/buku_tua_pakguru_dasar_kpdd_154.html